Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Desember 2015

20 Bahaya Makan Mie Instan Sangat Mematikan

Dilansir dari http://halosehat.com . berikut Bahaya dari Mie instan

Siapa yang tidak mengenal Mie Instan. Makanan ini memang sangat terkenal di seluruh dunia khususnya di wilayah Asia. Di Indonesia sendiri makanan ini hadir dengan berbagai merk juga rasa dan membuat penggemar makanan ini tidak sedikit. Sebenarnya sudahbanyak yang paham bahwa Mie Instan adalah makanan yang memiliki bahaya dan tidak baik untuk dikonsumsi. Namun efek mengenyangkan juga harga yang murah menjadi alasan utama mengapa makanan yang mengancam kesehatan ini tetap laku terjual habis. Inilah 20 macam bahaya makan mie instan yang sangat mematikan:

Jumat, 10 Agustus 2012

Semoga demikian adanya

Perempuan itu berujar,
Biarkan cinta itu bermuara dengan sendirinya...
disaat yang tepat...
dengan seseorang yang tepat....
dan pilihan yang tepat......
hanya dari Allah SWT.
disaat dihalalkannya dua manusia...
untuk bersatu...
dalam ikatatan pernikahan yang barokah
Semoga saja akan demikian adanya...

Selasa, 19 Juni 2012

*Perjuangan untuk berubah*

Bismillaah,
*Perjuangan untuk berubah*
Banyak orang yang mengeluh, sulitnya untuk mengubah orang lain. Tetapi tahukah wahai saudaraku, bahwa yang paling sulit sebenarnya adalah untuk mengubah diri sendiri. Bila diri sendiri sukar diubah, apatah lagi mahu menuntut orang lain untuk berubah?

Masalahnya, ada juga orang yang sudah ingin berubah, tetapi keadaannya belum membenarkannya untuk berubah. Ada juga yang sudah mulai untuk mengubah perangai negatifnya, mengubah sifat buruknya, tetapi langsung tidak mendapat penghargaan dan perhatian dari orang terdekat dengannya. Akibatnya, dia merasa sia-sia berubah diri…




Ada juga yang berani mencari perhatian dari sekitarnya, maksud hatinya mahu memberitahu pada dunia kalau dia sudah berubah. Tetapi cemoohan dan kata-kata sinis yang dihadapinya. Ada yang akhirnya trauma untuk berubah karena dikatakan hipokrit.

Kenapa kita harus mencemooh seseorang dahulunya freehair, sekarang berubah memakai kerudung?

Kenapa menyindir orang yang dahulunya tidak sholat, sudah rajin mengunjungi 'rumah'Alloh?

kenapa?

Yang ingin saya sampaikan di sini adalah, kita harus “Menghargai” Perjuangan seseorang untuk mengubah dirinya, dengan memberikan kesempatan padanya untuk memperbaiki dirinya. Berikan dukungan moral, dan dorongan kepada mereka yang ingin memperbaiki diri, memperbaiki hubungan dengan Alloh dan seterusnya ‘hubungan’ yang kurang harmoni menjadi hubungan yang jauh lebih mesra. Berikan kesempatan bagi mereka yang ingin menjalin kembali tali-tali persahabatan yang telah putus..

Mudah untuk mencari musuh, tetapi sulit untuk mencari sahabat, mudah mencari pasangan hidup baru, tetapi sukar mempertahankan pasangannya sendiri, mudah mencari cinta nafsu, tetapi sulit mencari cinta yang ikhlas, mudah menyalahkan orang lain, tetapi sukar melihat kesalahan sendiri, mudah untuk berpisah, mengapa sukar untuk ‘bersatu’ lagi?

Mudah memberi ‘label’ pada seseorang, tetapi m
engapa sukar mencabut ‘label’ yang sudah diberikan?

Bila anda seorang pejuang, maka anda akan sangat mengerti arti sebuah pengorbanan.
Bila anda adalah seorang yang senang berkorban, maka anda akan sangat mengerti arti menjadi 'korban' itu sendiri.
Apapun pengorbanan dan perjuangan anda, semua itu tidak akan sia-sia...Dan ingatlah, bila orang-orang masih sukar menerima anda, dari sudut lain pasti banyak yang menanti kebaikan anda.

Yang paling penting. Alloh senantiasa menerima segala pengorbanan hambanya kearah kebaikan.

Itulah adalah sebaik-baikny, berubah karena Alloh.

Bila sahabat, pasangan anda yang lalu, tidak kembali disisi lagi. Jangan khawatir, pasti masih banyak orang yang ingin menerima anda menjadi sahabat, saudara, ataupun pasangan anda. Jangan menyerah...tiada seorang pejuang yang mudah menyerah...

Semoga semua orang yang berhubungan dengan kita, akan dapat menghargai perjuangan kita untuk melangkah kearah yang lebih baik, damai dan tenang..
Masa lalu biarlah berlalu, sambutlah massa depan yang ceria, dengan memperbaiki diri kita yang sekarang. Tidak perlu dengar "apa kata orang" tetapi dengarlah "apa kata hatimu".
Tentunya mendengar dari kata hati yang tidak akan "makan hati"

<Aku Islam>

Selasa, 07 Februari 2012

Membudayakan "Jazakallah Khairan" (dan Bagaimana Menjawabnya)



penulis mengambil tema ini, merasa perlu banget dipelajari untuk membudayakan ajaran-ajaran dan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari

"Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, dia tidak berterima kasih kepada Allah."
Kalimat ini adalah terjemahan dari hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya.

مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ


Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, dia tidak berterima kasih kepada Allah (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani)

Ada hadits lain yang senada dengan hadits di atas, yang juga berderajat shahih.

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

Tidak bersyukur kepada Allah, siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Dishahihkan oleh Al-Albani)

Diantara bentuk paling mudah dari berterima kasih adalah melalui ucapan. Minimal, melalui ucapan itulah seseorang berterima kasih kepada orang lain atas kebaikan yang telah ia berikan. Baik kebaikan itu berupa pertolongan, pemberian, maupun dukungan baik materi maupun non materi.

Membudayakan berterima kasih, dengan demikian adalah salah satu ajaran Islam. Namun, bagaimana ucapan terima kasih yang terbaik?

Rasulullah SAW menjelaskan dalam haditsnya :

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِى الثَّنَاءِ

Barangsiapa diperlakukan baik oleh orang lain kemudian ia berkata kepadanya "jazaakallah khairan" (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka ia telah memujinya dengan setinggi-tingginya. (HR. Tirmidzi, Al Albani berkata: "shahih")


Dalam hadits lain disebutkan :

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لأَخِيهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِى الثَّنَاءِ

Jika seseorang berkata kepada saudaranya "jazaakallah khairan" (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka ia telah memujinya dengan setinggi-tingginya. (HR. Thabrani, Al Albani berkata: "shahih li ghairihi")


Demikianlah, jazakallah khairan adalah ungkapan terima kasih terbaik karena ia merupakan pujian tertinggi kepada saudara kita atas kebaikan yang telah dilakukannya. Ucapan jazakallah khairan itu juga merupakan doa baginya.

Bagaimana jika yang melakukan kebaikan itu adalah akhwat, mengingat "jazakallah khairan" adalah untuk ikhwan? Untuk akhwat adalah "jazakillah khairan". Jadi huruf "kaf" dikasrah. Pada ikhwan (bentuk mudzakkar) huruf "kaf" difathah.

Penggunaan "jazakillah khairan" ini seperti yang tercantum dalam hadits shahih Bukhari ketika Usaid bin Hudhair berterima kasih kepada Aisyah :

فَقَالَ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ لِعَائِشَةَ جَزَاكِ اللَّهُ خَيْرًا ، فَوَاللَّهِ مَا نَزَلَ بِكِ أَمْرٌ تَكْرَهِينَهُ إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ ذَلِكِ لَكِ وَلِلْمُسْلِمِينَ فِيهِ خَيْرًا

Sedangkan jika ucapan itu ditujukan kepada banyak orang (jamak) maka ia berubah menjadi "jazaakumullah khairan."

Terkadang kita jumpai, sebagian orang mengucapkan "jazakallah". Itu sebenarnya tidak lengkap karena artinya adalah "semoga Allah membalasmu". Kalau lengkap "jazaakallah khairan" artinya adalah "semoga Allah membalasmu dengan kebaikan." Kadang ada juga yang ditambahi "jazaakallah khairan katsiiran" artinya adalah "semoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang banyak." Seyogyanya kita menghindari "jazaakallah khair" karena dalam gramatikal Arab artinya menjadi tidak jelas: "semoga kebaikan membalasmu dengan Allah."

Lalu bagaimana jika orang lain yang mengucapkan "jazaakallah khairan" kepada kita? Bagaimana jawaban "jazaakallah khairan" itu?

Sayangnya, dalam hadits tidak disebutkan jawaban dari jazakallah khairan, termasuk tidak disebutkan jawaban Aisyah ketika Usaid bin Hudhair mengucapkan jazakillah khairan kepadanya.

Sebagian ulama menjelaskan, memang tidak ada kesunahan jawaban tertentu untuk ucapan "jazakallah khairan." Sebagian ulama mempersilakan menjawab "amin" karena pada dasarnya "jazakallah khairan" adalah doa. Ada juga ulama yang mempersilakan menjawab dengan "afwan" karena ucapan "jazakallah khairan" itu adalah ucapan terima kasih (bentuk tertinggi pengganti "syukran"). Ada juga yang menggunakan "waiyakum" dengan maksud mendoakan kembali orang yang mengucapkan "jazakallah khairan."

Wallaahu a'lam bish shawab
. Yang pasti, membudayakan "jazaakallah khairan" adalah lebih baik daripada "syukran" atau "terima kasih", khususnya diantara sesama ikhwah atau aktifis dakwah yang sama-sama mengerti tentang maksud dan dalilnya. Kepada masyarakat umum, tentu yang ideal adalah mengkomunikasikan dan mendakwahkan agar mereka mengerti. Tidak langsung memaksakan penggunaannya hingga menimbulkan kebingungan.

Minggu, 31 Juli 2011

Cinta Tak Terbalas



eramuslim - Kadang saya iri melihat orang-orang di sekeliling saya, disayangi oleh “seseorang”. Apalagi di bulan Februari. Di mana-mana nuansanya Valentine. Saya memang penganut “tiada pacaran sebelum akad”, tapi sebagai manusia kadang timbul juga perasaan ingin diperhatikan secara istimewa.
Saya tidak pernah tahu rasanya candle light dinner. Pun tidak pernah menerima bunga mawar merah. Tidak ada yang menawarkan jaketnya saat saya menggigil kedinginan. Atau berpegangan tangan sambil melihat hujan meteor. (Deuh, Meteor Garden banget! He..he...)
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html